Sabtu, 24 Maret 2018

Dedek part 2

    Pada siang itu hadir sebuah pesan dari dedek yang isinya menanyakan apakah aku ada waktu luang atau tidak dan jika ada dia bilang ingin melihat sunset. Meskipun pada waktu itu temanku ada yang mengajakku ngnet aku menolaknya dan bilang ke dedek bahwa aku ada waktu luang untuk melihat sunset. Berhubung
aku belum memahami kota pontianak aku bertanya kepadanya ingin melihat sunset dimana dan bakalan bareng siapa aja atau kami berdua saja? Dia mengajakku pergi ke taman UNTAN saja selain dekat dan bagus disitu kita juga melihat beberapa aktivitas anak – anak club basket, bmx, skateboard, dan lain – lain untuk latihan freestyle. Dia meminta pendapatku dimana lagi tempat yang bagus untuk menikmati sunset. Aku hanya bisa mengusulkan korem karena tempatnya sangat mendukung untuk menikmati mentari senja dan juga satu – satunya tempat di kota Pontianak yang aku pernah ku kunjungi untuk menikmati sunset. Tetapi dia mempunyai waktu luang sekitar pukul 16 : 30 sore sehingga waktu yang ditempuh terlalu jauh belum lagi macetnya kota tercinta ini. Karena hal tersebut kami sepakat dengan opsi pertama yaitu TAMAN UNTAN.

    Pada pukul 16 : 10 aku berangkat menuju kos nya dan bilang bahwa aku akan menunggu diwarung tepat depan kosnya. Dia mengiyakan dan juga sudah mulai bersiap – siap dan menyuruhku untuk menunggu saja didepan kos karena dia tidak akan lama. Pada pukul 16 : 18 aku sampai di depan kosnya sengaja tidak kukirim pesan atau meneleponnya. Tapi belum saja hitungan menit dia sudah meneleponku dan bilang dia sedang di garasi sedang menuju keluar, ternyata tidak seperti yang kubayangkan akan menunggu lama. 

Dedek     : hai
Aku        : hai juga
Dedek    : ehh udah nyampe ya
Aku        : iya dong
Dedek    : kok nggak sms
Aku        : nggak, percaya kok kamu bakalan cepet. Hehe
Dedek    : hahaha percayaan banget
Aku        : kan dirimu dapat dipercaya
Dedek    : bisa aja. Oh iya ayok berangkat
Aku        : okay ayoklah

    Kemudian ku bonceng dia menuju taman UNTAN melewati komplek UNTAN sembari mengobrol kami melihat – lihat kampus, mahasiswa jogging, para mahasiswa baru yang foto – foto, dan juga banyak orang bersantai beserta keperluannya. Sesampainya di taman ku lihat ada ada dua bangku beton melingkar tetapi terpotong satu meteran dia bagian tengahnya. Ku parkirkan saja didekatnya.

Aku        : kita nyantai dibangku itu saja ya
Dedek    : iya, aku juga kalo sama kakak aku nyantainya disitu
Aku        : oh iya kah? Aku ngikut – ngikut kakakmu dong
Dedek    : iya. Nggak papa lah, emang enak kok nyantai disitu
Aku        : sep lah. Pas berarti aku milih tempatnya
Dedek    : iya pas banget. Ayok langsung aja
Aku      : bentar didalam bagasi motor aku ada bawa minuman sama cemilan (sambil membukanya dan memberikan kepadanya)
Dedek    : wah repot – repot bawa beginian
Aku        : nggak papa dong, biar nggak bengong aja nongkrongnya
Dedek    : iya deh ngikut aja

    Kami duduk berdua saja di bangku beton setengah lingkaran itu dan ada beberapa orang lagi duduk di sebrangnya. Sore itu matahari memberikan sedikit hangat pada tubuh kami, udara yang segar dinaungi pepohonan sekitar, berisik jalan raya dipenuhi sibuknya kendaraan, gelak ucapan yang aksennya samar dari orang – orang, dan kuratapi wajahnya seraya berdiskusi tawa. Ku nikmati aroma nikmat di taman, sepeda yang berputar – putar, skateboard berterbangan kesana kemari, bola basket yang bingung dipermainkan, dan mentari menuju peraduan indahnya.

    Pada jam 17 : 05 sunset mulai menampakkan indahnya, mata kami menyaksikan kilauannya, dan hanya pujaan yang terucap dan terus Ku pandangi indah itu. Ku bisikan padanya sebagian ingatanku tentang senja dan sunset yang pernah kulihat, walaupun langit dan matahari yang sama tetapi sudut pandang yang berbeda memberikan kesan tersendiri. Dia juga memberikan sebagian kisahnya sehingga kami tenggelam dalam pemandangan dan pengalaman. Mulai dari bukit gersang yang panas tetapi sang mentari dapat lebih lama dinikmati, bukit dengan pepohonan yang sejak tetapi tak bebas menatapnya, pantai yang luas tetapi kilauannya menyiksa mata, sungai juga begitu, tetapi kali ini taman memberikan kehangatan raga dan jiwa membuat hiruk pikunya kota seolah sirna. Tak kami sadari ternyata mentari mulai malu – malu menuju peraduan dan perpamitan. Aahhhh padahal aku masih ingin lebih lama lagi, padahal rinduku pada senja belum lepas semua, padahal kehangatan ini lama tak kutemui, begitulah indah terasa cepat namun membekas sangat lama.
    Adzan maghrib hampir di kumandangkan, meski masih ingin disini namun aku memilih mengantarkannya dan memenuhi kewajibanku. Di perjalanan dia berkata bahwa mata kuliah Pengantar Ekonomi 1 sangat sulit untuk dimengerti, karena aku sedikit lebih paham darinya dan juga ingin mengembalikan kotak nasi goreng yang sebelumnya dia berikan kepadaku. Di dekat kos ku ada warung kopi yang menyediakan jaringan wi – fi Aku menawarkan tempat itu untuk nongkrong agar bisa mengerjakannya bersama – sama. Tetapi, dia bilang didepankos nya juga ada selain itu dia terbatas keluar malam di atas jam 22 : 00, lewat dari itu gerbang kos akan di tutup. Karena aku Sempat keluar sekitar jam 20 : 00 sehingga aku lebih setuju dengan saran yang dia tawarkan. Dan aku berjanji akan datang on time kalo bisa malah sebelum yang di jadwalkan.
Selain itu aku ingin memberikan kejutan dengan membelikan bakso kesukaannya...

......................................bersambung............................

0 komentar:

Posting Komentar